INTEGRITY DALAM LAW’S EMPIRE – RONALD DWORKIN

Disclaimer: Tulisan ini adalah resume dan pendapat pribadi penulis dengan tujuan edukatif dan sama sekali tidak mewakili kebijakan intansi.

Integritas politik beroperasi melalui dua prinsip mendasar. Pertama, prinsip legislatif mewajibkan pembuathukum untuk memastikan keseluruhan undang-undang memiliki koherensi moral. Kedua, prinsip ajudikatif mengarahkanagar hukum dipandang koheren dengan cara tersebut, sejauh mungkin. Prinsip perundang-undangan ini sudah mengakarkuat dalam praktik politik kita. Apabila prinsip integritas legislatif diaplikasikan pada kedua dimensi ini, maka prinsipajudikatif dan konsepsi hukum yang relevan akan siap untuk dijalankan.

Integritas dan Kompromi

Dalam ranah politik praktis, integritas harus dipandang sebagai cita-cita yang saling terkait karena sering kaliberbenturan dengan nilai-nilai ideal lainnya. Kondisi ini menuntut kita untuk tetap mematuhi peraturan yang mungkin dianggap kurang tepat, demi menjaga keadilan sosial dan pengakuan atas hak-hak pihak lain. Contoh dari pertentanganantara integritas dan nilai-nilai tersebut telah dibahas pada bab sebelumnya.

Dalam diskursus politik, keadilan sering dilihat dari dua sudut pandang berbeda. Pertama adalah keyakinan bahwakualitas hasil adalah satu-satunya ukuran keadilan; tidak ada gunanya sebuah prosedur jika tidak melahirkan keputusanyang adil. Namun, mayoritas filsuf politik cenderung pada pendapat kedua, yakni keadilan institusional dan keadilan hasil berdiri sendiri-sendiri sampai batas tertentu. Akibatnya, bisa terjadi situasi di mana institusi yang sudah dirancangsecara adil tetap menghasilkan kebijakan yang dirasa tidak adil.

Kompromi Internal

Keadilan politik mensyaratkan adanya distribusi kendali yang setara bagi setiap individu atau kelompok terhadap keputusan badan legislatif. Dalam hal moralitas, legislasi tidak boleh sekadar menjadi alat pemaksaan kehendakmayoritas, melainkan harus menjadi ruang pertukaran ide dan kompromi agar setiap aspirasi terwakili secara proporsional.Namun, keadilan juga harus diukur dari hasil akhirnya; sebuah keputusan politik dianggap tidak adil apabila iamerampas sumber daya, kebebasan, atau peluang warga negara, terlepas dari seberapa adil prosedur pengambilankeputusan tersebut.

Para astronom mempostulasikan keberadaan Neptunus sebelum mengamatinya secara langsung, didorong olehkebutuhan untuk menjelaskan anomali orbit planet-planet terdekat. Demikian pula, intuisi kita tentang kompromi internalmengisyaratkan adanya cita-cita politik di luar keadilan. Integritas adalah “Neptunus” kita dalam politik. Penolakan kitaterhadap undang-undang yang bersifat tambal sulam (inkonsisten) paling masuk akal dijelaskan melalui idealisme ini:sebuah negara yang menerapkan kompromi internal dianggap bertindak tanpa prinsip, bahkan jika tindakan pejabat individualnya tidak melanggar prinsip tersebut.

Integritas dan Konstitusi

Menerima integritas dalam politik berarti kita menolak kompromi hukum yang tidak konsisten. Kita memandang bahwanegara memiliki kewajiban moral untuk bertindak secara berprinsip, sebuah gagasan yang diperkuat oleh klausul perlindungan setara dalam konstitusi. Sebagai contoh, Mahkamah Agung berwenang membatalkan hukum yang tebangpilih dalam memberikan hak dasar. Aturannya sederhana: pemerintah mungkin punya pilihan untuk memberikan atau tidakmemberikan hak tambahan (non-konstitusional), namun jika mereka memutuskan untuk memberikannya kepada satu pihak,maka integritas hukum mewajibkan hak itu diberikan kepada semua orang.

Kaitan antara integritas dan retorika perlindungan yang setara terlihat sangat nyata. Penekanan pada integritas diperlukan karena kompromi internal sering kali mencederai prinsip “kesetaraan dihadapan hukum” atau yang kadang disebut sebagai “kesetaraan yang tidak tepat”. Terdapat pandangan umum yang meremehkan jenis kesetaraan ini dengan alasan bahwa ia hanya memberikan sedikit perlindungan terhadap tirani. Dalampandangan konvensional tersebut, kesetaraan formal dianggap sekadar masalah penegakan aturan yang ada secara kaku,tanpa memedulikan substansi atau keadilan dari isi aturan itu sendiri.

Sistem federal dalam Konstitusi Amerika Serikat mengakui setiap negara bagian sebagai entitas politik mandiri yangmemiliki kedaulatan atas berbagai persoalan prinsipil. Oleh karena itu, adanya perbedaan prinsip dalam undang-undangperdata (seperti hukum gugatan) antar-negara bagian tidak dianggap sebagai pelanggaran integritas politik. Setiap otoritasnegara bagian berhak menyuarakan prinsipnya sendiri meskipun berbeda dengan negara bagian lain. Namun, dalam kerangkafederalisme, integritas menuntut adanya konsistensi pada tingkat konstitusional tertinggi dalam menetapkan pembagiankekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah.

Prinsip integritas secara fundamental meningkatkan efisiensi sistem hukum melalui internalisasi nilai-nilai keadilanyang melampaui formalisme hukum. Apabila masyarakat mengakui bahwa supremasi hukum tidak hanya bersandarpada regulasi eksplisit hasil konsensus politik masa lalu, melainkan juga pada prinsip-prinsip fundamental yang mengilhami keputusan tersebut, maka akan terbentuk sebuah tatanan norma publik yang adaptif dan dinamis. Evolusistandar hukum ini terjadi secara organik seiring dengan peningkatan diskursus intelektual masyarakat dalam menginterpretasikan implikasi prinsip-prinsip tersebut terhadap realitas sosial yang baru. Implikasinya, sistem hukummampu memitigasi sengketa dan mengisi kekosongan norma tanpa harus bergantung pada produk legislasi yang bersifatkasuistik maupun intervensi yudisial yang mendetail pada setiap titik konflik.

Integritas adalah katalisator penting bagi gagasan pemerintahan mandiri yang sejati. Konsep ini membawa kita pada inti perdebatan mengenai mengapa kita merasa wajib mematuhi hukum (legitimasi politik). Di sini, integritasmemberdayakan setiap warga negara secara aktif. Masyarakat dituntut untuk melihat hubungan mereka bukan sekadarinteraksi transaksional yang diatur oleh aturan kaku, melainkan sebagai ikatan persaudaraan yang unik (distinctive), di mana standar publik dikembangkan secara kolektif dan partisipatif. Integritas menciptakan jembatan antara kehidupanpolitik dan pribadi, sehingga keduanya saling memperkuat. Manfaatnya bukan hanya soal efisiensi hukum yang fleksibel(organik), tetapi juga soal cara masyarakat berkomunikasi. Kehebatan integritas muncul justru saat terjadi perbedaan pendapat.Selama warga negara melihat satu sama lain berusaha bertindak jujur berdasarkan prinsip komunitas, rasa kebersamaantetap terjaga. Nilai ekspresif ini membuktikan bahwa menjadi bagian dari masyarakat bukan berarti harus selalu setuju, melainkan tentang saling menghargai upaya dalam mencari keadilan bersama.

Teka-teki Legitimasi

Legitimasi suatu negara ditentukan oleh struktur konstitusional dan praktik yuridis yang mewajibkan warganegara untuk menaati keputusan politik yang bersifat mengikat. Argumen mengenai legitimasi pada dasarnya bertujuan untuk memvalidasi kewajiban patuh dalam tatanan umum. Hal ini tidak berarti bahwa pemerintah yang sahmemiliki otoritas moral absolut atas segala tindakan, atau bahwa warga negara secara mutlak wajib mematuhi setiap kebijakan tanpa pengecualian. Legitimasi hanyalah dasar moral bagi keberlakuan sistem hukum secara kolektif.

John Rawls menyatakan bahwa individu dalam kondisi ‘posisi asal’ (original position) secara rasional akan mengakuiadanya kewajiban alamiah untuk menjunjung tinggi institusi yang memenuhi kriteria keadilan abstrak. Lebih jauh lagi,tugas moral ini diperluas untuk mencakup dukungan terhadap lembaga-lembaga yang belum sepenuhnya ideal, asalkanketidakadilan yang muncul bersifat sporadis dan terjadi dalam kerangka kerja mayoritas yang pada dasarnya tetapberlandaskan prinsip keadilan.

Argumen fair play (keadilan distributif) menyatakan bahwa setiap individu yang menerima manfaat dari sebuahorganisasi politik yang eksis secara otomatis memikul tanggung jawab atas beban organisasi tersebut. Hal ini mencakupkewajiban untuk tunduk pada keputusan politik kolektif, terlepas

dari apakah individu tersebut secara eksplisit meminta manfaat tersebut atau secara aktif menyatakan persetujuannya. Premis ini dianggap sebagai alternatif yang lebih kuat dibanding teori persetujuan (consent theory) maupun kewajiban alamiahterhadap keadilan, karena ia menghindari jebakan universalitas yang abstrak dan menjadikannya pesaing serius bagigagasan legitimasi berbasis integritas.

Kewajiban Masyarakat

Dworkin mengartikan kewajiban komunal sebagai beban tanggung jawab etis yang muncul dari posisi seseorang dalamsuatu unit sosial biologis maupun kultural. Berbeda dengan teori kontrak yang mengutamakan persetujuan (consent),kewajiban ini diterima sebagai bagian dari identitas sosial yang sudah ada. Namun, validitas kewajiban ini tetap bergantung pada fungsi kelompok; jika kelompok tersebut berhenti memberikan kemaslahatan bagi anggotanya, maka landasanmoral bagi individu untuk menunaikan tanggung jawab khususnya pun akan hilang secara perlahan. Anggota komunitasharus memandang tanggung jawab mereka sebagai sesuatu yang eksklusif dan melekat hanya di dalam kelompoktersebut. Kewajiban ini berbeda dengan kewajiban moral umum kepada seluruh umat manusia. Ada batas yang jelasbahwa perhatian dan dedikasi yang diberikan kepada sesama anggota kelompok tidak diberikan secara setara kepadaindividu di luar komunitas tersebut.

Konflik dan Keadilan

Dworkin ingin menegaskan bahwa integritas tidak identik dengan kebenaran absolut. Sebuah negara atau komunitasbisa saja koheren secara prinsip (memiliki integritas) namun prinsip yang dianutnya tetap mengandung ketidakadilan moral. Hal ini menciptakan dilema bagi warga negara: antara kewajiban mematuhi praktik komunitas yang sudah mapan(integritas) atau menolaknya demi prinsip keadilan yang lebih luas. Secara praktis, legitimasi sebuah lembaga politikatau sosial bergantung pada bagaimana anggotanya menafsirkan kewajiban mereka. Keadilan menjadi instrumen evaluatif:jika masyarakat merasa suatu struktur (seperti hierarki sosial) tidak adil, maka cara mereka menjalankan etika kesopanan dankepatuhan akan berubah. Integritas politik menuntut agar institusi tidak dipandang sebagai fakta keras yang kaku, melainkansebagai praktik yang harus terus-menerus disempurnakan melalui lensa keadilan agar tetap relevan dan sah bagi para anggotanya.

Dworkin merumuskan bahwa kewajiban asosiatif memiliki struktur dualistik yang kompleks, di mana iamensinergikan antara fakta praktik sosial dan diskursus penafsiran kritis. Kewajiban ini tidak muncul dalam ruang hampa;ia memerlukan fondasi sosiologis berupa praktik nyata dalam kelompok yang memang secara historis mengakui adanya tanggung jawab bersama. Namun, eksistensi praktik tersebut hanyalah syarat awal, karena makna dancakupan kewajiban tersebut sepenuhnya bergantung pada bagaimana anggota komunitas menafsirkan praktik tersebut secarakritis agar tetap relevan dengan nilai-nilai moral. Komunitas yang pada dasarnya sehat namun memiliki unsur paternalistikyang tidak adil (seperti pengaturan pernikahan), konflik moral yang terjadi bersifat nyata dan mendalam. Ketika seorangindividu memilih untuk melanggar aturan komunitas demi hak asasi atau kebebasan pribadi, pelanggaran tersebut tidak serta-merta menghapus identitasnya sebagai anggota kelompok. Meskipun tindakannya dibenarkan secara moral (berdasarkanprinsip hak), ia tetap memiliki ‘utang moral’ berupa penjelasan atau permohonan maaf. Hal ini menunjukkan bahwa kewajiban asosiatif tetap memiliki bobot, sehingga pengabaiannya menyisakan ruang bagi penyesalan dan upayarekonsiliasi.

Persahabatan dan Komunitas Politik

Justifikasi paling kokoh bagi legitimasi politik—yaitu hak negara untuk membebankan kewajiban kepadawarganya—bukan terletak pada teori kontrak sosial, prinsip keadilan abstrak, maupun etika fair play yang biasa berlaku di antara individu yang tidak saling mengenal. Alih-alih mengandalkan model transaksional tersebut, legitimasi seharusnyadipahami melalui lensa kewajiban asosiatif. Negara dipandang sebagai sebuah ‘komunitas prinsip’ yang setara dengan ikatankeluarga atau persahabatan, di mana kewajiban politik muncul secara inheren dari rasa kebersamaan dan persaudaraansebagai sesama anggota komunitas. Adanya kritik bahwa pendekatan asosiatif seolah “menghindari” masalah legitimasitradisional. Namun, ia berargumen bahwa langkah ini sebenarnya

adalah strategi redefinisi. Dengan menggeser beban pembuktian, Dworkin menantang para penentang legitimasi politik: jikamereka menolak otoritas negara, mereka juga harus konsisten menolak semua bentuk kewajiban sosial lainnya (sepertikeluarga dan persahabatan), atau setidaknya membuktikan mengapa negara tidak bisa dianggap sebagai bentuk asosiasiserupa.

Perdebatan mengenai kepatuhan warga negara. Alih-alih terjebak dalam pertanyaan teknis tentang “kapan kitamenyetujui hukum”, perdebatan dialihkan pada pertanyaan sosiologis yang lebih luas: “Komunitas politik seperti apa yangkita tinggali?” Pendekatan ini memperluas bidang 4rgument dengan menempatkan kewajiban politik di dalam spektrumtanggung jawab sosial manusia yang lebih luas, sehingga menjadikannya lebih relevan dengan realitas kehidupan komunal.

Tiga Model Komunitas

Memahami negara sebagai komunitas sejati bukanlah sekadar tugas sosiologi deskriptif yang hanya mencatat dataempiris tentang stabilitas politik. Sebaliknya, ini adalah sebuah tugas interpretatif. Pertanyaan intinya bukan tentang institusiapa yang ada, melainkan: ‘Karakter kepedulian dan tanggung jawab bersama seperti apa yang harus terkandung dalam praktik politik kita agar klaim kita sebagai komunitas sejati dapat dibenarkan secara moral?’ Fokusnya adalah mencaripembenaran etis di balik asumsi keanggotaan yang kita jalani. Dalam pandangan ini, komunitas politik dipandang sebagailokus utama keadilan. Pertanyaan tentang apa yang ‘adil’ atau ‘wajar’ tidak dijawab secara abstrak secara universal, melainkan dalam konteks spesifik sebuah kelompok politik. Sikap politik masyarakat yang memprioritaskan sesama warganegara menjadi bukti awal bahwa kita menganggap negara sebagai komunitas asosiatif. Namun, untuk menjadi komunitasyang sah secara integritas, praktik-praktik tersebut harus mampu merefleksikan prinsip kepedulian yang setara dantanggung jawab timbal balik yang mendalam antar anggotanya.

Beberapa model komunitas antara lain yaitu :

  1. Model Komunitas De Facto (Kebetulan Sejarah);

Model ini memandang masyarakat politik hanya sebagai sekumpulan orang yang berada di wilayah yang samakarena kebetulan sejarah atau geografi. Karakteristik yaitu idak ada ikatan moral khusus antar anggota. Hubunganterjalin hanya karena kebutuhan (transaksional) atau demi mencapai tujuan lain yang lebih besar. Dimana statuslegitimasi rendah dan Tidak ada alasan moral yang kuat mengapa seseorang harus patuh pada komunitas ini jika kepentingannya tidak terpenuhi.

  1. Model Komunitas “Buku Aturan” (Rulebook Community);

Dimana model ini memandang komunitas sebagai sekumpulan individu yang setuju untuk patuh pada aturan-aturan eksplisit yang telah disepakati bersama dengan karakteristik Komunitas ini didasarkan pada kompromi politik.Anggota merasa terikat hanya pada apa yang tertulis dalam undang-undang atau perjanjian masa lalu. Dalam hal inistatus legitimasi bersifat terbatas. Model ini gagal menjelaskan kewajiban dalam situasi-situasi sulit yang belum adaaturannya.

  1. Model Komunitas Prinsip (Community of Principle);

Model Terbaik dimana inilah model yang diusulkan Dworkin sebagai dasar bagi Hukum sebagai Integritas dengan karakteristik anggota komunitas tidak hanya patuh pada aturan tertulis, tetapi juga pada prinsip-prinsip moral (keadilan,kewajaran, dan prosedur yang adil) yang mendasari aturan tersebut. Memiliki status legitimasi kuat. Model inimemberikan alasan moral yang paling kokoh bagi kewajiban politik, karena warga negara merasa dihargai bukanhanya melalui teks hukum, melainkan melalui komitmen komunitas terhadap prinsip keadilan yang utuh.

Dworkin berpendapat bahwa hanya Komunitas Prinsip yang memenuhi syarat sebagai komunitas sejati. Dalammodel inilah integritas hukum dapat hidup, sehingga warga negara memiliki kewajiban moral yang sah untuk mematuhihukum sebagai perwujudan persaudaraan politik. Dworkin menegaskan bahwa menafsirkan komunitas politik sebagaikomunitas yang menuntut “perpaduan kepribadian” yang setara adalah kesalahan interpretasi. Kewajiban asosiatif dalam politik haruslah memiliki karakter yang berbeda dengan kewajiban dalam keluarga. Politik tidak bertujuan untuk

universalitas cinta, melainkan pada integritas prinsip. Memaksakan cinta universal dalam politik hanya akan berujungpada punahnya kedalaman perasaan yang selama ini menghidupi hubungan- hubungan kemanusiaan yang paling privat.

Integritas dianggap sebagai penjelasan yang paling akurat karena mampu memberikan makna pada berbagai fitur struktur dan praktik ketatanegaraan yang sebelumnya tampak membingungkan atau kontradiktif. Integritas “cocok” denganrealitas hukum kita karena ia menjelaskan mengapa kita menolak hukum yang tidak konsisten (seperti hukum “papancatur”) dan mengapa kita menuntut negara untuk bertindak dengan satu prinsip yang tunggal. Integritas bukan sekadardeskripsi tentang apa yang terjadi, melainkan upaya untuk menunjukkan praktik hukum dalam cahaya terbaiknya.Kedudukan integritas sebagai bagian dari interpretasi yang sukses bergantung pada kemampuannya untuk menjustifikasi praktik politik kita secara moral. Ia membuktikan bahwa dengan memandang hukum sebagai satu kesatuan prinsip yangkoheren, kita sebenarnya sedang membangun fondasi bagi komunitas yang lebih adil dan bermartabat.

Dworkin merangkum argumentasinya dengan menekankan bahwa penerimaan terhadap integritas sebagaikebajikan politik memiliki nilai praktis sekaligus ekspresif. Melalui perbandingan tiga model komunitas, ia menegaskanbahwa Komunitas Prinsip adalah satu-satunya model yang mampu memberikan basis legitimasi politik yang kokoh.

Berikut adalah elemen-elemen kunci dalam kesimpulannya:

  1. Transformasi Kewajiban Politik menjadi Kewajiban Sosial:

Model komunitas prinsip berhasil mengonversi kewajiban politik yang kaku menjadi bagian dari kewajiban sosial yang lebih luas. Dengan mengadopsi integritas, negara memperlakukan kewajiban patuh pada hukum sebagaimana kitamemahami tanggung jawab dalam hubungan persaudaraan atau komunitas intim lainnya.

  1. Manifestasi Kepedulian yang Mendalam:

Komitmen kolektif terhadap integritas mencerminkan bentuk kepedulian yang memenuhi empat standar kewajibankomunal yang diterima secara universal: bersifat istimewa (khusus antar warga negara), personal (individu keindividu), meresap (aktif di seluruh aspek kehidupan publik), dan egaliter (memberikan perhatian yang sama bagisetiap anggota).

  1. Integritas dalam Konteks Budaya Politik Nyata:

Dworkin secara jujur mengakui bahwa argumennya bukanlah sebuah kebenaran moral absolut yang abadi atau abstrak.Ia menekankan bahwa integritas mungkin tidak diperlukan dalam sebuah masyarakat utopis yang sudah dianggap adil secara sempurna oleh semua anggotanya. Namun, dalam konteks budaya politik kita saat ini, integritas menjadi esensial karena ia mampu menyelaraskan praktik hukum yang kompleks (dimensi kesesuaian) dengan visi moral yangpaling dapat dipertanggungjawabkan (dimensi pembenaran).

Dworkin menjelaskan bahwa meskipun prinsip integritas merupakan otoritas tertinggi dalam menentukan apa ituhukum, prinsip tersebut tidak selalu menjadi penentu akhir bagi tindakan yang harus diambil hakim. Terdapat pemisahan antara identifikasi hukum dan eksekusi kekuasaan koersif negara. Integritas sebagai Penentu Hak Hukum dimana Hakim yangberpegang pada integritas akan memandang hukum sebagai satu kesatuan prinsip yang koheren (“negara berbicara dengansatu suara”). Tugas utamanya adalah menetapkan hak-hak sejati pihak berperkara berdasarkan standar hukum masyarakat yang berlaku saat peristiwa terjadi. Dalam kondisi normal, integritas memberikan jawaban yang menentukan mengenai hakdan kewajiban hukum seseorang. Konflik antara integritas dan moralitas personal dimana adanya situasi luar biasa dimana hukum yang dihasilkan melalui proses integritas ternyata sangat tidak bermoral. contoh historis “Fugitive Slave Act” (Undang-Undang Budak Buronan) di Amerika Serikat. Secara integritas, undang-undang tersebut mungkin sah sebagaibagian dari sejarah politik masa itu. Namun, secara moralitas personal, hakim mungkin menganggapnya sangat keji karenamengharuskan pengembalian budak ke majikannya. Pilihan Dilematis Hakim ketika integritas menghasilkan hukum yangbertentangan secara ekstrem dengan moralitas, hakim dihadapkan

pada tiga pilihan sulit yaitu menegakkan Hukum dan tetap menjalankan undang-undang tersebut meskipun bertentangan dengan hati nuraninya, melakukan kebohongan yudisial dengan mengklaim secara tidak jujur bahwa aturan tersebut bukanlah hukum demi mencapai hasil yang adil. Mengundurkan diri dengan memilih untuk tidak menggunakankekuasaan negara demi melaksanakan hukum yang dianggap tidak bermoral.

Integritas memiliki “kata pertama” (the first word) dalam proses hukum—artinya, integritas mendefinisikan apa hukumnya secara objektif. Meskipun dalam situasi yang sangat jarang moralitas yang lebih kuat mungkin menuntutpengabaian terhadap hukum tersebut, dalam kondisi normal, tidak ada alasan tambahan yang diperlukan selain integritasuntuk menjalankan kekuasaan negara.

Integritas dan Konsistensi

Hukum bukan sekadar sekumpulan aturan kaku hasil kompromi masa lalu (Model “Buku Aturan”), melainkansebuah proyek moral berkelanjutan yang menuntut negara untuk bertindak dengan satu suara yang konsisten berdasarkanprinsip-prinsip keadilan dan kewajaran. Melalui model Komunitas Prinsip, ia menjelaskan bahwa hubungan antara warga negara dan negara menyerupai “kewajiban asosiatif” dalam keluarga atau persahabatan, di mana kepatuhanterhadap hukum lahir dari rasa persaudaraan dan tanggung jawab timbal balik, bukan sekadar kontrak transaksional.

Dworkin membedakan integritas dari konsistensi sempit; integritas tidak hanya mengulang keputusan masa lalusecara mekanis, tetapi melakukan interpretasi konstruktif untuk menemukan skema prinsip yang paling koheren bagimasyarakat. Meskipun integritas terkadang tampak konservatif karena menghormati preseden, ia juga bisa menjadi kekuatanradikal yang membatalkan aturan lama jika aturan tersebut terbukti mengkhianati prinsip fundamental keadilan. Bagihakim, integritas berfungsi sebagai pedoman untuk melihat hukum dalam “cahaya terbaiknya,” meskipun Dworkinmengakui adanya batas moral di mana nurani hakim mungkin terpaksa menolak hukum yang sangat tidak adil. Pada akhirnya, integritas menempatkan hukum sebagai identitas moral sebuah komunitas yang hidup, yang menjamin bahwasetiap individu diperlakukan dengan kepedulian dan penghormatan yang setara.

Integritas menuntut konsistensi mutlak dalam hal prinsip keadilan, tetapi memberikan kelonggaran dalam halkebijakan ekonomi atau sosial. Dengan membedakan keduanya, Dworkin menunjukkan bahwa hukum sebagai integritas mampu menjadi kekuatan yang sangat radikal dalam membela hak-hak sipil yang fundamental, sembari tetap memberikan ruang bagi fleksibilitas pemerintah dalam mengatur urusan publik yang bersifat strategis. Integritasmemusatkan perhatiannya pada pemenuhan hak-hak yang bersifat prinsip, baik itu hak politik besar (seperti kesetaraan suaradan kebebasan berpendapat) maupun hak yang bersumber dari moralitas pribadi (seperti hak atas kompensasikerugian). Pemerintah diwajibkan untuk “berbicara dengan satu suara” dalam hal ini, yang berarti standar keadilan tersebutharus berlaku secara konsisten kepada siapa pun dan dalam situasi apa pun tanpa pengecualian. ntegritas memastikan bahwanegara tidak boleh mengorbankan hak individu demi kepentingan kebijakan yang bersifat pragmatis. Integritas memberikanmandat kepada negara untuk selalu konsisten dalam melindungi prinsip-prinsip moral, sembari tetap memberikan ruang bagi fleksibilitas dalam mengatur urusan publik melalui kebijakan umum. Melalui prinsip integritas, sistem peradilan pidana tidakdituntut untuk menjadi mesin yang seragam secara mekanis, melainkan menjadi lembaga yang konsisten secara moral.Integritas memungkinkan fleksibilitas dalam strategi penegakan hukum (kebijakan), namun mengharuskan ketegasan tanpakompromi dalam perlindungan hak-hak individu (prinsip).

Penulis : Brillian Hadi Wahyu Pratama, S.H., M.H.

Referensi :

–  Law’s Empire. Cambridge, MA: Harvard University Press, 1986.